1.
Connecting
dan Mathematics Connecting
Menurut
Wikipedia, Connection
(mathematics) is a way of specifying a derivative of a geometrical
object along a vector field on a manifold.
Koneksi dengan kata lain dapat diartikan sebagai keterkaitan, dalam hal ini
koneksi matematika dapat diartikan sebagai keterkaitan antara konsep-konsep
matematika secara internal yaitu berhubungan dengan matematika itu
sendiri ataupun keterkaitan secara eksternal, yaitu matematika dengan bidang
lain baik bidang studi lain maupun dengan kehidupan sehari-hari.
Koneksi matematis merupakan pengaitan
matematika dengan pelajaran lain, atau dengan topik lain. Pengertian lain dari mathematical
connections adalah hubungan antara dua representasi yang ekuivalen, dan
antara proses penyelesaian dari masing-masing representasi. Hal ini di jelaskan
oleh Sumarmo (2003) menyatakan bahwa koneksi matematik merupakan kegiatan yang
meliputi: mencari hubungan antara berbagai representasi konsep dan prosedur;
memahami hubungan antar topik matematik, menggunakan matematika dalam bidang
studi lain atau kehidupan sehari-hari, memahami representasi ekuivalen konsep
yang sama, mencari koneksi satu prosedur lain dalam representasi yang
ekuivalen, menggunakan koneksi antar topik matematika, dan antar topik
matematika dengan topik lain.
Kemampuan koneksi matematik adalah
kemampuan yang ditunjukkan siswa dalam:
1.
Mengenali representasi
ekuivalen dari konsep yang sama.
2.
Mengenali hubungan
prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi yang ekuivalen.
3.
Menggunakan dan menilai
keterkaitan antar topik matematika dan keterkaitan di luar matematika.
4.
Menggunakan matematika
dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan koneksi matematik (mathematical connection)
dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan ide-ide matematik. NCTM (Ulep,
dkk. 2000: 291) menguraikan indikator koneksi matematik, antara lain:
1.
Saling menghubungkan berbagai representasi dari konsep-konsep
atau prosedur.
2.
Menyadari hubungan antar topik dalam matematika.
3.
Menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
4.
Memandang matematika sebagai suatu kesatuan yang utuh.
5.
Menggunakan ide-ide matematik untuk memahami ide matematik
lain lebih jauh.
6.
Menyadari representasi yang ekuivalen dari konsep yang sama.
2.
Proses
pembelajaran dengan aspek Connecting
Dalam dunia pembejaran banyak sekali
dijumpai berbagai macam konsep pembelajaran yang dipakai dalam pengembangan
pembelajaran disekolah. Proses pembelajaran matematika merupakan salah satu
bagian dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah maupun di kampus, yang
diharapkan tujuan pendidikan akan dapat dicapai melalui proses ini antara lain
dalam bentuk terjadinya perubahan sikap, keterampilan, serta meningkatnya
kemampuan berpikir siswa. Pembelajaran matematika kini telah berpindah dari
pandangan mekanistik kepada pemecahan masalah, meningkatkan pemahaman, dan
kemampuan berkomunikasi secara matematika dengan orang lain. Proses
pembelajaran pada umumnya bersifat mekanistik yang hanya menghasilkan pemahaman
instrumental. Siswa tidak diberdayakan untuk berpikir, kemampuan yang
dikembangkan hanyalah kemampuan menghafal dan kemampuan kognitif aras rendah. Jika
pada pengajaran matematika di masa lalu siswa diharapkan bekerja secara mandiri
dan dapat menguasai algoritma matematika melalui latihan secara intensif, pada kurikulum yang sekarang, matematika didesain
dan dikembangkan untuk mengembangkan daya matematis siswa, melalui inovasi dan
implementasi berbagai pendekatan dan metode. Hal tersebut digunakan untuk
membangun kepercayaan diri atas kemampuan matematika mereka melalui proses
1) Memecahkan
masalah.
2)
Memberikan alasan
induktif maupun deduktif untuk membuat, mempertahankan, dan mengevaluasi
argumen secara matematis.
3)
Berkomunikasi,
menyampaikan ide/gagasan secara matematis.
4) Mengapresiasi
matematika karena keterkaitannya
dengan
disiplin ilmu lain, aplikasinya pada dunia nyata.
Koneksi
matematika terbagi kedalam tiga aspek kelompok koneksi, yaitu: aspek koneksi
antar topik matematika, aspek koneksi dengan disiplin ilmu lain, dan aspek
koneksi dengan dunia nyata siswa atau koneksi
dengan kehidupan sehari-hari. Koneksi matematik memegang peranan yang penting dalam upaya
meningkatkan pemahaman matematika. Orang yang telah memahami suatu kaidah
berarti mampu menghubungkan beberapa konsep. Bruner (Ruseffendi, 1991: 152)
juga mengungkapkan bahwa agar siswa dalam belajar matematika lebih berhasil,
siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melihat kaitan-kaitan, baik
kaitan antara dalil dan dalil, antara teori dan teori, antara topik dan topik,
maupun antara cabang matematika (aljabar dan geometri misalnya). Sehingga jika
suatu topik diberikan secara tersendiri, maka pembelajaran akan kehilangan satu
momen yang sangat berharga dalam usaha meningkatkan prestasi siswa dalam
belajar matematika secara umum. Melalui koneksi matematik, dengan suatu materi
siswa dapat menjangkau beberapa aspek untuk penyelesaian masalah, baik di dalam
maupun di luar sekolah yang pada akhirnya secara tidak langsung siswa
memperoleh banyak pengetahuan yang dapat menunjang peningkatan kualitas
pendidikan.
Pentingnya
koneksi matematik diungkapkan oleh NCTM (Rohansyah, 2008: 4) yang menyebutkan
bahwa koneksi matematik membantu siswa untuk memperluas perspektifnya,
memandang matematika sebagai suatu bagian yang terintegrasi daripada sebagai sekumpulan
topik, serta mengenal adanya relevansi dan aplikasi baik di dalam kelas maupun
di luar kelas. Dengan memiliki kemampuan koneksi matematik, siswa tidak
diberatkan dengan konsep matematika yang begitu banyak. Siswa mempelajari
matematika dengan mengaitkan konsep baru dengan konsep lama yang sudah
dipelajarinya. Menurut Setiawan (2009: 3), kenyataan di lapangan menunjukkan
bahwa kemampuan siswa dalam melakukan koneksi matematik masih tergolong rendah.
Selain itu, dengan melihat hubungan antara konsep matematika
dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari, siswa akan mengetahui banyak
manfaat dari matematika. Dengan mengetahui manfaat dari matematika tersebut akan
menumbuhkan dan meningkatkan sikap positif siswa terhadap matematika. Seperti
yang diungkapkan oleh Ruseffendi (1991: 233) bahwa agar siswa tertarik atau
berminat terhadap matematika, paling tidak siswa harus dapat melihat
kegunaannya dan keindahannya. Berdasarkan pernyataan-pernyataan yang telah
diuraikan tersebut, dapat dikatakan bahwa dengan koneksi matematik, siswa akan
memperoleh pemahaman lebih mendalam, wawasan pengetahuan yang lebih luas, serta
peningkatan sikap positif terhadap matematika. Untuk itu guru perlu memberikan
perhatian terhadap koneksi matematik agar siswa dapat memahami matematika
secara terintegrasi yang pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa
dalam pelajaran matematika. Pembelajaran
matematika mengikuti metode spiral. Artinya dalam memperkenalkan suatu konsep
atau bahan yang masih baru perlu memperhatikan konsep atau bahan yang telah
dipelajari siswa sebelumnya. Bahan yang baru selalu dikaitkan dengan bahan yang
baru dipelajari, dan sekaligus untuk mengingatkannya kembali.
Terdapat
berbagai pendekatan dan model yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan
koneksi matematik, antara lain pendekatan kontekstual, open-ended,
konstruktivisme, pemecahan masalah, dan juga metode inkuiri. Misalnya pendekatan
konstruktivisme merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa
diberdayakan oleh pengetahuan yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi
strategi dan penyelesaian (solusi), debat antara satu dengan lainnya, serta
berpikir kritis tentang cara terbaik untuk menyelesaikan setiap masalah.
Tahapan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas, secara umum (menurut
model dari Connected Mathematics Project) terdiri dari
1)
Tahap Eksplorasi
Pada fase ini guru menyajikan fakta atau fenomena yang berkaitan dengan
konsep yang akan diajarkan. Siswa menyelidiki fenomena tersebut dengan
bimbingan minimal sehingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan atau kekompleksan
yang tidak dapat mereka pecahkan dengan pola penalaran yang biasa mereka
lakukan.
Fase ini menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan
pengetahuan awalnya dalam mengobservasi, memahami, serta mengkomunikasikannya
pada orang lain berdasarkan konsep-konsep yang telah mereka ketahui. Tujuan
dari kegiatan ini adalah untuk melibatkan siswa secara aktif dalam suatu
aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan motivasi belajar. Di
samping itu kegiatan pada fase ini memungkinkan siswa menyadari konsep yang
telah dimilikinya.
Contoh:
1)
Dalam pembelajaran konsep barisan aritmetika, siswa diberikan beberapa
barisan bilangan. Siswa mengamati barisan-barisan bilangan tersebut dan
diharapkan mereka dapat menemukan keteraturan dan kesamaan yang terdapat dalam
barisan-barisan bilangan itu.
Pada
bangku SLTP telah dipelajari tentang barisan-barisan bilangan, diantaranya:
a)
1, 2, 3, 4, 5, … disebut barisan bilangan asli.
b)
0, 2, 4, 6, … disebut barisan bilangan genap.
c)
1, 3, 6, 10, … disebut barisan bilangan segitiga.
Sekarang
perhatikan beberapa barisan bilangan berikut :
1)
1,4,7,10,…
2)
6,8,10,12,…
3)
10,5,0,-5,…
4)
0,6,12,18,…
Terdapat
sebuah kesamaan pada keempat barisan bilangan di atas. Jelaskan apa kesamaan
dari keempat barisan bilangan tersebut!
2)
Selain itu disajikan juga
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mengenai pertambahan kenaikan
gaji seorang pegawai. Dengan bimbingan minimal dari guru, siswa menyelesaikan
permasalahan dengan caranya sendiri.
Monnie adalah
seorang pegawai baru dengan gaji permulaan Rp. 300.000. Setiap bulan berikutnya
ia akan mendapat bonus kenaikan gaji sebesar Rp. 20.000.
a.
Gaji yang diterima Monnie dari bulan ke-1 sampai bulan ke-4
berturut-turut adalah …... , ……. , ……. , ……
b.
Berapakah gaji Monnie ketika ia sudah bekerja selama dua
tahun?
c.
Gambarkan hubungan tersebut pada bidang cartesius dengan
sumbu-x sebagai bulan dan sumbu-y sebagai besar gaji yang diterima.
2)
Tahap Pengenalan Konsep
Pada fase ini siswa
mengemukakan gagasan-gagasan kemudian didiskusikan dalam konteks apa yang telah
diamati selama fase eksplorasi. Guru memberikan penguatan terhadap jawaban atau
gagasan yang diungkapkan siswa. Selain itu, guru mengenalkan istilah-istilah,
penjelasan, pengkontrasan, mengusulkan alternatif pemecahan, atau memperbaiki
miskonsepsi siswa. Siswa dengan bimbingan guru mengorganisasikan datanya untuk
menemukan keteraturan atau hubungan antar konsep. Seperti contoh yang
dikemukakan pada fase pertama, pada fase ini dengan cara diskusi guru
memberikan penjelasan tentang sifat-sifat barisan aritmetika, mengemukakan
contoh-contohnya, dan memberikan penguatan bagaimana cara mencari suku ke-n.
Jika dari hasil pekerjaan siswa terdapat cara pengerjaan yang berbeda, itu
adalah suatu hal yang wajar dan diharapkan terjadi. Hal ini menunjukkan kepada
siswa bahwa pada suatu konsep yang sama dapat terjadi representasi yang
ekivalen.
3)
Tahap Aplikasi Konsep
Fase ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan
konsep-konsep yang telah diberikan pada fase pertama dan kedua untuk menyelesaikan
persoalan dalam konteks yang berbeda. Siswa menerapkan konsep yang telah mereka
dapat pada situasi baru, baik untuk memahami sifat-sifat konsep lebih jauh
(materi pengayaan) atau dalam konteks kehidupan sehari-hari. Guru membantu
menginterpretasi dan menggeneralisasi hasil pengalaman siswa. Siswa memperoleh
penguatan dan pengembangan struktur mental yang baru.
Menurut Dahar (1988: 173) fase ini memberikan kontribusi yang cukup
penting dalam proses belajar, sebab biasanya informasi itu dinilai kurang
berharga jika tidak dapat diterapkan di luar konteks di mana informasi itu
dipelajari. Jadi generalisasi atau transfer informasi pada situasi-situasi baru
merupakan fase kritis dalam belajar. Selain itu fase ini dapat juga dikatakan
sebagai umpan balik. Menurut Lardizabal, dkk. (1991: 50) fase ini merupakan
evaluasi apakah pembelajaran dapat diterima atau tidak. Proses belajar belum
terjadi, jika siswa tidak bisa menerapkan atau menggunakan apa yang telah ia
pelajari. Jika ia belajar suatu aturan, maka ia akan dapat menerapkan aturan
tersebut dalam penyelesaian masalah lain. Jika ia belajar suatu fakta, maka ia
akan dapat mengakui fakta tersebut dalam situasi yang berbeda.
Contoh :
Grafik
di atas merupakan grafik jarak terhadap waktu dari sebuah kereta api yang
bergerak menurut garis lurus dalam waktu 10 detik. Dari grafik tersebut,
berapakah kecepatan awal kereta api tersebut. Konsep apa yang digunakan untuk
menyelesaikan soal di atas?
Siswa menggunakan
pengetahuan awalnya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, guru memberikan
bantuan minimal. Sebagian siswa mengerjakan soal nomor 1 dengan menemukan
persamaan untuk suku ke-n, dan terdapat sebagian kecil menghitung satu persatu.
Kemudian hasil pekerjaan siswa didiskusikan, guru memberikan kejelasan mengenai
konsep dan memberikan alternatif penyelesaian yang dianggap lebih mudah.
Pembahasan ini tidak sekedar barisan aritmetika, tetapi juga menjelaskan bahwa
barisan pada hakekatnya merupakan fungsi dengan daerah asal bilangan asli dan
daerah hasil bilangan real. Selanjutnya pada fase aplikasi guru menyajikan
persoalan lain dalam konteks yang berbeda agar siswa lebih memahami konsep
tersebut.
No comments:
Post a Comment